10 tahun Q! Film Festival

Q-Munity yang merupakan sebuah organisasi nirlaba bergerak dibidang seni kembali mengadakan Q! Film Festival (Q! FF) untuk yang kesepuluh kalinya. Festival film yang mengkhususkan pada pemutaran film-film dari berbagai belahan dunia dengan tema LGBT (Lesbian Gay Sex and Transgender)  ini digelar sejak 30 September hingga 8 Oktober 2011. Tak hanya mengangkat isu kehidupan yang berkaitan dengan kalangan LGBT, festival film ini juga ditujukan untuk mengangkat tema-tema terkait HIV/AIDS. Festival dibuka dengan pemutaran film Lovely Man karya terbaru dari Teddy Soeriaatmadja yang dibintangi oleh Donny Damara dan Raihaanun. Film Lovely Man mencatat sejarah sebagai film Indonesia pertama yang menjadi film pembuka sepanjang 10 kali penyelenggaraan festival ini.  Seperti tahun-tahun sebelumnya, festival ini didukung oleh organisasi dan lembaga nirlaba yang bergerak dibidang seni dan budaya seperti Komunitas Salihara, Kineforum, Ruang Rupa, Galeri Foto Jurnalistik Antara). Turut didukung juga oleh pusat-pusat kebudayaan asing seperti Erasmus Huis dan Centre Culturel Francais.

Selain Lovely Man yang mendapatkan sambutan positif selama penyelenggaraan festival, Q!FF menghadirkan lebih dari 100 film yang berasal dari kurang lebih 20 negara dari seluruh dunia. Beberapa film-film unggulan seperti Dalam Botol, yang disutradarai oleh Raja Azmi dari Malaysia. Film ini bercerita tentang seorang laki-laki yang menjalani operasi ganti kelamin untuk kekasihnya dan hidupnya berubah setelah itu. Claudette disutradari Sylvie Cachin dari Swiss yang bercerita mengenai seorang pekerja seksual komersial yang terlahir sebagai interseks (memiliki dua kelamin). HIV: Hey, It’s Viral! Disutradarai oleh Salome Chasnof yang merupakan sebuah video pendidikan tentang HIV dan masalah seksualitas guna memperkenalkan safe sex serta menghentikan penyebaran HIV/AIDS. Bad, Cell 77 disutradari oleh Janusz Mrozowski dari Polandia/Perancis yang menyajikan kisah nyata tentang tujuh wanita narapidana dalam sebuah penjara. Role Play disutradarai oleh Rob Williams, bercerita tentang seorang bintang televisi yang terjerat kasus video seks, karirnya hancur dan ia berusaha menenangkan diri disebuah rumah peristirahatan. Festival juga mendatangkan beberapa sutradara yang filmnya diputar selama festival, seperti  Teddy Soeriaatmadja, Raja Azmi dan Janusz Mrozowski.

Sejumlah jurnalis freelance, termasuk John Badalu, tercatat sebagai pemrakarsa festival film ini. Sejak awal, pemutaran festival film ini bertujuan mengangkat konflik-konflik kehidupan kalangan LGBT dari seluruh dunia dan keinginan mereka untuk mendapatkan pengakuan. John Badalu adalah sosok yang menjadi inspirator kegiatan ini. Ia dikenal sebagai kritikus film, bahkan pernah didaulat sebagai juri khusus film-film gay di Berlin Film Festival ketika ia sedang studi di Eropa. Meskipun tahun ini John sudah tidak lagi secara resmi terlibat pada festival ini. Selain itu ide mengenai Q!FF muncul juga ingin memberikan alternatif pilihan film-film non mainstream (bukan Hollywood) untuk penggemar film Indonesia di pasaran guna mengangkat kesadaran terhadap isu-isu LGBT. Tahun 2002 akhirnya direalisasikan dengan nama Q! Screening, sejalan waktu akhirnya berganti nama menjadi Q! Film Festival. Meski selalu menuai pro-kontra dari tahun ke tahun, festival ini justru terus berkembang. Jika pada tahun-tahun awal penyelenggaraan hanya dengan kegiatan pemutaran film semata, festival mengembangkan diri dengan mengadakan ajang Q! Exhibition, Q! Literature, Q! Gossip dan workshop dan selalu memberikan kesempatan diskusi setelah pemutaran film dengan sutradara-sutradara yang dihadirkan Q!FF.

Sebagai satu-satunya festival yang menawarkan film-film alternatif yang tidak biasa diputar di bioskop komersial, Q Film Festival telah berhasil diselenggarakan setiap tahun sejak 2002. Selain memberi pilihan tontonan, festival film ini juga memiliki misi untuk berbagi dan mengangkat wacana LGBT sebagai bentuk dukungan atas kebebasan berekspresi dan keberagaman orientasi seksual, menggugah kesadaran atas permasalahan yang muncul terkait issue LGBT. Hasil yang signifikan adalah Komisi Hak Asasi Manusia telah menambahkan perlindungan kepada komunitas LGBT dalam 2 tahun belakangan ini. Dan organisasi nirlaba untuk advokasi untuk komunitas LGBT juga telah dibentuk untuk mengakomodasi kebutuhan yang muncul dikalangan komunitas.

Selama penyelenggaraannya, Q Film Festival telah memutar lebih dari 900 judul film yang dihadiri oleh sekitar 180.000 pengunjung. Tamu-tamu dari mancanegara; pembuat film, distributor dan penyelenggara festival film pun turut hadir ke perhelatan seni budaya ini. Bahkan, untuk Indonesia, Q! Film Festival menjadi festival film queer terbesar di Asia untuk saat ini.

Q! Film Festival saat ini adalah festival film LGBT terbesar di Asia, dan mendapatkan penghargaan dari Teddy Award dari Berlin Film Festival. QFF juga dimasukkan dalam satu dari 24 contoh inisiatif dan proyek terbesar dari seluruh dunia yang berfokus pada hak asasi manusia pada tingkat lokal/regional/internasional oleh Copenhagen OutGames Festival dan Danish Institute for Human Rights (DIHR) pada tahun 2009.

Pada Q! FF tahun ini untuk bisa mengikuti rangkaian acara Q! Film Festival, penonton perlu menjadi anggota dengan cara mendaftarkan diri secara online melalui website Q-munity atau di lokasi pemutaran film minimal satu jam sebelum acara berlangsung. Syarat menjadi anggota memperlihatkan kartu identitas dan berusia lebih dari 18 tahun. Setelah mendaftar, penonton akan mendapatkan kartu keanggotaan. Kartu ini harus Anda perlihatkan setiap kali Anda ingin menonton atau mengikuti rangkaian acara lainnya selama diselenggarakannya

Tahun lalu penyelenggaraan festival ini sempat menjadi pusat perhatian menyusul adanya aksi penolakan yang dilakukan organisasi masyarakt (ormas) Front Pembela Islam (FPI). Ormas ini menggelar aksi demo, bahkan mengancam akan melakukan aksi lebih tegas bila kegiatan ini masih tetap digelar. Pemutaran beragam film yang mengangkat isu tentang kehidupan kalangan LGBT dianggap FPI akan merusak moral generasi muda.

Terlepas dari silang pendapat yang tidak kunjung selesai, Q!FF telah menjadi salah satu kegiatan tahunan film festival di Indonesia (Jakarta khususnya) yang rutin diadakan dan boleh dibilang berhasil memberikan alternatif seperti misi awalnya. Bersanding dengan Europe On Screen, INAFFF, Festival Sinema Perancis dan Jiffest semoga festival ini tetap bertahan menjadi kegiatan rutin tahunan.

Advertisements

Tags:

About IMBlog Community

Komunitas movie blogger Indonesia

2 responses to “10 tahun Q! Film Festival”

  1. Natalia says :

    You post interesting posts here. Your blog deserves much bigger
    audience. It can go viral if you give it initial boost, i know useful tool that can help you, just type in google:
    svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: